Beberapa tarif di pelabuhan Tanjung Priok mengalami kenaikan per 15 April kemarin. Tarif yang naik adalah jasa pelabuhan seperti pelayanan untuk lift on-lift off (Lo-Lo) maupun storage peti kemas internasional (ekspor-impor) di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kenaikan tarif ini ditolak oleh para importir.

Berikut 3 faktanya:

1. Ditolak Importir

Salah importir yang menolak berasal dari industri mainan. Menurut Penasehat Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sandi Vidhianto keputusan menaikkan tarif di tengah masa pandemi seperti tidak tepat. Sebab, para importir juga masih berjuang untuk pulih dari dampak pandemi.

“Spirit pak Jokowi kan ingin ekonomi segera bangkit, tapi tanpa hujan tanpa angin itu tiba-tiba tarif peti kemas itu naik, saya perkirakan sekitar 50% lebih itu sih luar biasa ya, di masa pandemi begini, kita benar-benar sangat-sangat keberatan.

Menurut Sandi, soal kenaikan tarif pelabuhan Tanjung Priok ini, pihaknya mengaku tak diajak diskusi lebih dulu. Pihaknya tiba-tiba saja dapat surat edaran kenaikan tarif yang tentunya dianggap memberatkan.

“Kita baru dapat surat edarannya juga dan sudah diberlakukan, makanya kita semuanya berteriak. Maksudnya coba para stakeholder, para user itu diajak bicara dululah,” ungkapnya.

2. Bisa Kerek Naik Harga Mainan Impor

Kenaikan tarif pelabuhan Tanjung Priok ini, sambung Sandi bisa turut mempengaruhi harga jual produk mainan hingga naik sekitar 30%. Namun, ini juga jadi dilema buat para pelaku industri mainan di tengah daya beli yang belum juga pulih.

“Pasti minimal 30%. Sedangkan sekarang daya belinya sedang turun, masih jauh dari kata pulih, kalau ada naik tapi sangat kecil sekali, belum ada artinya, tapi kalau sekarang kita menaikkan harga kan nggak mungkin lagi, tapi kalau kita diskon-diskon terus akhirnya profit kita anjur semua, kita tak punya untung sama sekali, dan sekarang aja dagang yang penting duitnya muter aja gitu, modal balik aja sekarang dah syukur sekali,” ungkapnya.

Untuk itu, sebagai langkah antisipasi awal, pihaknya lebih memilah-milah lagi barang-barang apa saja yang perlu diimpor dan mana yang tidak.

“Kita udah selektif banget untuk impor, barang apa yang memang tidak diproduksi lagi di dalam negeri,” katanya.

3. Bikin Pengusaha Mainan Banting Setir hingga Gulung Tikar
Penyesuaian tarif di pelabuhan itu tak hanya berimbas pada kenaikan harga produk, lebih parahnya bisa memicu lebih banyak pelaku industri mainan yang gulung tikar hingga banting setir.

“Sudah banyak (yang gulung tikar) sampai ada yang pulang kampung, ada yang jadi klontong, karena memang sudah nggak kuat, dan banyak yang beralih ke FnB (food and beverage). Ada yang jual kopi, jual makanan frozen. (Tarif pelabuhan naik) Pasti akan banyak (yang gulung tikar atau banting setir),” ujar Sandi.

Sandi menceritakan, sejak ada pandemi omzet rata-rata para pelaku industri mainan anjlok lebih kurang hingga 70%. Walaupun e-commerce kini sedang geliat-geliatnya, tak memberi dampak yang signifikan bagi para pelaku mainan. Sebab, sumber utama pendapatan pelaku mainan adalah dari toko-toko ritel mereka yang didatangi pengunjung secara langsung. Sehingga, kalaupun ada peningkatan omzet paling mentok sampai 15% dari kondisi terpuruk masa pandemi.

“(Hanya naik sekitar 10-15%) betul,” katanya.

Tak hanya itu, pengangguran dari industri ini pun diprediksi akan meningkat bila pengusahanya sudah tak sanggup lagi bertahan. “Kalau rontok satu demi satu akhirnya pengangguran akan meningkat,” imbuhnya.